Archive for March 2009

65% Hutan Lampung Rusak

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sebanyak 65 persen hutan di Provinsi Lampung mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan. Apabila tidak cepat dibenahi, kerusakan ini dikhawatirkan dapat mengurangi cadangan air tanah dan menimbulkan bencana banjir.

Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Syaiful Bachri mengatakan hal itu saat menghadiri Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Daerah Provinsi Lampung di Aula Kampoeng Wisata Tabek Indah, Natar, Rabu (25-3) Baca Selengkapnya... »

Perambahan Kawasan Hutan di Register 18 Kabupaten Pesawaran Kian Mengkhawatirkan

NEGERIKATON (Lampost): Aksi perambahan hutan kawasan Register 18 yang berada di antara Kecamatan Negerikaton dan Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, semakin menjadi. Bahkan, sejumlah lahan di hutan kawasan tersebut sudah bersertifikat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, dari total luas sekitar 1.890 hektare, hutan kawasan tersebut kini habis dijarah dan dirambah oleh penduduk lokal maupun pendatang.

Kini, sedikitnya 50 hektare hutan kawasan tersebut juga bersertifikat hak milik para penggarapnya. Melihat kondisi ini, sejumlah aktivis lingkungan mendesak dinas terkait segera melakukan penertiban terhadap warga yang telah melakukan perambahan. Termasuk warga yang telah memiliki sertifikat di hutan kawasan tersebut. Baca Selengkapnya... »

Menjaga Kelestarian Alam Dimulai Dari Dunia Pendidikan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam dan ketersediaan air harus dimulai dari dunia pendidikan.

Pemerhati kelestarian alam, Anshori Jausal, mengungkapkan hal itu di sela-sela diskusi triwulan majalah Proyeksi Bappeda Provinsi Lampung, di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Kamis (5-3).

Acara ini digelar Bappeda Provinsi Lampung menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Rini Pahlawanti dari Watala, Anshori Djausal, dan Adi Pramudyo. Peserta dari berbagai kalangan mulai dari akademisi dan pemerintahan.

“Untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup harus dimulai dari dunia pendidikan, dengan menanamkan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup sedini mungkin kepada anak-anak,” kata Anshori.

Dia mengatakan mencermari fenomena alam yang terjadi saat ini, yakni banjir pada saat musim hujan, dan kekeringan saat musim kemarau, maka harus diambil langkah cepat. Salah satunya dengan memanen air hujan atau rainharvest.

Hal itu bisa dilakukan dengan menanpung air hujan dari rumah-rumah atau perkantoran dan menyimpannya dalam kolam penampungan. Sehingga, saat musim kemarau air tersebut bisa dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.

“Sudah saatnya pemerintah mendorong perkantoran, hotel-hotel, dan gedung-gedung yang besar memiliki tempat penyimpanan dan pengolahan air,” kata Anshori. Sehingga, air hujan tidak menggenang dan meresap ke tanah, dan mengantisipasi terjadinya banjir di musim hujan.

Dia mengingatkan banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung awal Januari lalu harus mendapat perhatian serius. “Jika tidak, siklusnya akan berkurang dari banjir 20 tahunan menjadi 10 tahunan. Kemudian menjadi lima tahunan, bahkan bisa setiap tahun banjir,” kata dia mengingatkan.

Sementara itu, Rini Pahlawanti dari Watala mengatakan peran serta masyarakat sekecil apa pun sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian alam termasuk menjaga ketersediaan air. Untuk itu, dia mendorong masyarakat terutama di daerah hulu yang turut menjaga kelestarian alam seharusnya mendapat penghargaan.

“Saat ini sungai di Bandar Lampung sudah menjadi tempat pembuangan berbagai limbah. Maka harus ada kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaganya dari kerusakan,” kata dia. n UNI/S-1

 

sumber: Lampung Post